Menjaga Aqidah di Tengah Ujian Syubuhat: Civitas Khadijah Kembali Mendalami Syarah Kasyfu Syubuhat

Menguatkan ilmu, menjaga hati, dan meneguhkan tauhid di tengah derasnya informasi

Sumbawa, 22 Agustus 2026 — Menjaga aqidah bukan sekadar mengetahui apa yang benar, tetapi juga memahami bagaimana mempertahankannya ketika berhadapan dengan berbagai pemikiran, keraguan, dan syubhat. Di tengah derasnya informasi yang semakin mudah diakses, kebutuhan untuk membekali diri dengan ilmu yang benar menjadi semakin penting.

Berangkat dari semangat tersebut, Civitas Khadijah Binti Khuwailid Islamic Boarding School kembali melaksanakan kajian rutin pada Sabtu pekan terakhir bulan ini. Kajian yang dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sebulan. Pada pekan terakhir bulan ini, kajian kembali dilaksanakan dengan melanjutkan pembahasan kitab Syarah Kasyfu Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله, sebuah kitab yang memberikan penjelasan terhadap karya Imam Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله tentang berbagai bentuk syubhat yang berkaitan dengan tauhid. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustadz Ahmad Arifin, Lc., MA., M.M.Inov Hafizhahullah, yang mengajak civitas untuk memahami lebih dalam tentang bahaya syubhat, pentingnya ilmu dalam menjaganya, serta urgensi mengokohkan tauhid sebagai landasan kehidupan seorang Muslim.

Syubhat dan Pentingnya Ilmu

Pembahasan diawali dengan mengenal apa yang dimaksud dengan syubhat serta bahayanya terhadap seseorang yang tidak memiliki bekal ilmu yang memadai.

Syubhat bukanlah sesuatu yang baru. Berbagai bentuk kerancuan dalam memahami agama telah ada sejak dahulu dan menjadi ujian bagi manusia. Karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya memiliki semangat dalam beragama, tetapi juga membutuhkan ilmu yang benar agar semangat tersebut berjalan di atas petunjuk.

Rasulullah ﷺ telah memberikan kaidah yang sangat agung dalam menghadapi perkara yang belum jelas melalui sebuah hadis:

…إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar (syubhat)…

Dalam hadis yang sama, Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa siapa yang menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Sebaliknya, siapa yang terjatuh dalam perkara syubhat, ia dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam perkara yang haram.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.”

Hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya menjaga hati, karena kondisi hati memiliki pengaruh besar terhadap keseluruhan diri seseorang.

Dua Ujian Besar: Syubhat dan Syahwat

Ujian besar yang dapat menjerumuskan manusia terdapat dua perkara, yaitu syubhat dan syahwat.
Syubhat berkaitan dengan kerancuan dalam pemahaman, sedangkan syahwat berkaitan dengan dorongan hawa nafsu. Keduanya dapat menjadi sebab seseorang menjauh dari kebenaran apabila tidak dihadapi dengan ilmu dan ketundukan kepada Allah ﷻ.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Ayat ini menjadi salah satu pengingat bahwa seorang Muslim harus berhati-hati terhadap segala bentuk pencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan.

Dua Sikap dalam Menghadapi Syubhat

Pembahasan kemudian mengarah pada bagaimana seorang Muslim menyikapi syubhat sesuai dengan keadaannya. Pertama: Menjauhi Syubhat Sebelum Terjerumus

Bagi seseorang yang belum terpapar syubhat dan belum memiliki bekal ilmu yang cukup untuk membantahnya, sikap yang lebih selamat adalah menjauhinya. Tidak semua perkara harus didekati hanya karena rasa penasaran. Ada kalanya menjauh justru merupakan bentuk penjagaan terhadap hati dan agama.

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

Apabila engkau melihat orang-orang memperbincangkan ayat-ayat Kami dengan cara yang tidak benar, maka berpalinglah dari mereka sampai mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An’am: 68)

Sikap kehati-hatian ini juga tercermin dalam keteladanan para ulama salaf. Muhammad bin Sirin رحمه الله, seorang ulama dari kalangan tabi’in, dikenal sangat berhati-hati terhadap orang-orang yang membawa pemikiran menyimpang. Demikian pula Ayyub As-Sikhtiyani رحمه الله, yang dikenal tegas dalam menjaga dirinya dari majelis dan pembicaraan yang dikhawatirkan dapat memengaruhi agama.
Pelajarannya sederhana namun mendalam: seseorang perlu mengetahui kemampuan dirinya. Tidak semua medan pembahasan harus dimasuki, terlebih jika belum memiliki ilmu yang cukup.

Kedua: Jika Syubhat Telah Masuk, Carilah Jalan Keluar dengan Ilmu
Bagaimana jika seseorang telah terlanjur mendapatkan syubhat?
Di antara sikap yang perlu dilakukan adalah memohon pertolongan kepada Allah ﷻ, karena hati manusia berada di bawah kekuasaan-Nya sehingga seorang Muslim tidak boleh merasa dirinya cukup kuat hanya karena memiliki pengetahuan.
Kemudian, ketika menghadapi sesuatu yang belum dipahami, hendaknya seseorang bertanya kepada ahlul ilmi. Allah ﷻ berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa persoalan agama tidak seharusnya diselesaikan hanya berdasarkan pendapat pribadi, potongan informasi di media sosial, atau sekadar mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan.

Karena itu, ketika menghadapi persoalan agama yang belum dipahami, tempat bertanya bukanlah sekadar siapa saja yang dianggap pandai berbicara, tetapi kepada orang yang memiliki ilmu dan dikenal dengan keteguhan agamanya.

Syubhat juga tidak seharusnya disebarluaskan begitu saja. Jika seseorang belum mendapatkan jawabannya, hendaknya ia berhati-hati untuk tidak menjadikannya bahan pembicaraan kepada orang lain yang mungkin belum memiliki bekal untuk menyikapinya.
Salah satu pelajaran penting yang dapat diambil adalah: jangan menjadikan rasa penasaran sebagai alasan untuk membuka pintu syubhat tanpa bekal ilmu.

Keberanian yang Dibangun di Atas Ilmu

Menghadapi syubhat juga terkadang membutuhkan keberanian. Namun, keberanian dalam agama bukanlah keberanian yang serampangan, bukanlah keberanian yang dibangun di atas emosi, melainkan keberanian yang dibimbing oleh ilmu dan pertimbangan.

Kisah Nabi Ibrahim عليه السلام ketika menghadapi kaumnya menjadi salah satu gambaran keberanian dalam menegakkan tauhid. Ketika kaumnya menyembah berhala, Nabi Ibrahim عليه السلام menunjukkan kelemahan sesembahan tersebut dengan hujjah yang kuat.

Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa keberanian dalam menghadapi kebatilan perlu disertai ilmu. Seorang Muslim perlu mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus bertanya kepada orang berilmu, dan kapan harus memilih untuk menjauh.

Keberanian tanpa ilmu dapat menjadi kecerobohan, sedangkan ilmu yang benar akan membimbing seseorang untuk menempatkan keberanian pada tempatnya.

Dari Syubuhat Menuju Pembahasan Tauhid

Pembahasan kemudian mengantarkan civitas kepada tema utama dalam Kasyfu Syubuhat, yaitu tauhid. Secara bahasa, tauhid berasal dari kata wahhada–yuwahhidu–tauhīdan, yang bermakna mengesakan. Adapun secara istilah, tauhid berarti mengesakan Allah ﷻ dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan-Nya, terutama dalam ibadah.

Tauhid tidak hanya berbicara tentang pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan. Ia juga berkaitan dengan bagaimana seorang hamba mengarahkan ibadah hanya kepada Allah ﷻ, disertai mahabbah (cinta), ta’zhim (pengagungan), raja’ (harap), dan khauf (takut) kepada-Nya.

Adapun rasa takut yang bersifat manusiawi, seperti takut kepada hewan berbahaya atau sesuatu yang dapat membahayakan diri. Berbeda dengan rasa takut yang merupakan bagian dari ibadah. Rasa takut dalam pengertian ibadah hanya ditujukan kepada Allah ﷻ.

Mengenal Tiga Pembagian Tauhid

Pembahasan ini kemudian membawa kepada tiga pembagian tauhid yang dikenal dalam penjelasan para ulama, yaitu Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat.

Pertama, Tauhid Rububiyah, yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam perbuatan-Nya sebagai Rabb. Di antaranya berkaitan dengan penciptaan (al-khalq), kepemilikan/kekuasaan (al-mulk), dan pengaturan (at-tadbir).

Allah ﷻ berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Kedua, Tauhid Uluhiyah, yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam seluruh ibadah. Tidak ada satu pun ibadah yang boleh dipalingkan kepada selain Allah. Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl: 36)

Ketiga, Tauhid Asma wa Shifat, yaitu mengesakan Allah ﷻ dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadist.

Dalam pembahasan ini, seorang Muslim dituntut untuk menetapkan apa yang Allah ﷻ tetapkan bagi diri-Nya tanpa melakukan tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan), takyif (menanyakan hakikat bagaimana), maupun tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Allah ﷻ berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini menjadi kaidah yang sangat agung dalam memahami nama dan sifat Allah: Allah ﷻ memiliki nama dan sifat yang benar sebagaimana yang Dia kabarkan, namun tidak menyerupai makhluk-Nya.

Ilmu sebagai Benteng di Tengah Derasnya Informasi

Kajian tersebut akhirnya membawa sebuah pesan penting bagi setiap Muslim: ilmu adalah salah satu benteng dalam menjaga aqidah.

Di zaman ketika berbagai pemikiran dapat ditemukan hanya dalam hitungan detik, seseorang perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, mengetahui kepada siapa harus bertanya, serta memahami kapan harus mendekati sebuah pembahasan dan kapan harus menjauhinya.
Bagi Civitas Khadijah Binti Khuwailid Islamic Boarding School, kajian rutin ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya memperhatikan aspek akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi penguatan ilmu agama dan aqidah.

Sebab pendidikan tidak hanya tentang mempersiapkan seseorang agar mampu menghadapi dunia, tetapi juga membekalinya dengan ilmu dan keyakinan agar tetap memiliki pijakan ketika menghadapi berbagai ujian zaman.

Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang teguh di atas kebenaran, serta keselamatan dari berbagai fitnah syubhat dan syahwat.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis:
Ustadzah Andarsy Khusnul, S. Sos.
Dokumentasi & Publikasi:
Humas SMP Putri Khodijah Sumbawa (Ustadzah Ben)
YouTube: [https://www.youtube.com/@Khadijah_IBS_Sumbawa]

Kabar Sekolah Lainnya

Izinkan notifikasi dari Kami

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Artikel, Update Informasi Ponpes Khadijah Sumbawa Hanya Dalam Genggaman
Update Contents
App Khadijah Sumbawa Izinkan Notifikasi Dari Ponpes Khadijah Islamic Boarding School Sumbawa
Dismiss
Allow Notifications